Obat Herbal Alami

Cara Mencegah Penyakit Kanker Hati

Cara Mencegah penyakit Kanker Hati, Cara mencegah penyakit kanker secara alamiah, seperti kanker hati dan leher rahim secara alami. Pencegahan kanker adalah upaya menjaga kesehatan tubuh dari faktor-faktor penyebab penyakit kanker. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi obat herbal alami kanker yang berkhasiat memelihara kesehatan tubuh Anda. Dengan mengonsumsi produk herbal, Anda sudah menemukan cara pencegahan kanker hati yang mungkin saja berisiko untuk diidap.

Cara Mencegah Penyakit Kanker

Cara mencegah penyakit kanker secara alami adalah dengan menjalani pola hidup sehat. Paman sudah tiga bulan mengeluh nyeri di hulu hati. Paman juga sudah dua kali berpindah dokter sampai akhirnya berobat pada seorang dokter spesialis penyakit dalam. Dokter spesialis ini melakukan pemeriksaan ultrasosnografi dan laboratorium kemudian sampai pada diagnosis kanker hati.

"cara mencegah penyakit kanker"

Ternyata kanker hati paman sudah lanjut dan pilihan pengobatan yang dapat memberi hasil baik tak ada. Paman hanya akan mendapat terapi untuk mengurangi rasa nyeri. Berdasarkan perhitungan medis, paman hanya akan dapat bertahan kurang dari setahun.

Menurut penjelasan dokter, sebenarnya penyakit kanker hati paman berhubungan dengan hepatitis B yang telah lama diidapnya. Mulai terinfeksi hepatitis B sampai kanker hati memerlukan waktu sekitar 10 tahun. Jadi sebenarnya terbuka kesempatan untuk mencegah kanker hati. Pertama, menjalani vaksinasi hepatitis B sebelum terinfeksi dan kedua, seharusnya jika sudah terinfeksi, mendapat pengobatan hepatitis B yang sekarang sudah tersedia.

Selanjutnya keadaan hepatitis B paman harus dipantau secara berkala sehingga jika terjadi sirosis hati atau kanker hati dapat dideteksi secara dini. Semua ini tidak dijalani paman karena kurang pemahaman mengenai penyakit hepatitis B.

Kami serumah akhirnya periksa hepatitis dan ternyata bibi sudah terinfeksi, namun sudah punya kekebalan. Anak paman dua orang juga sudah punya kekebalan karena telah menjalani vaksinasi hepatitis B. Saya juga sudah vaksinasi hepatitis B dan kekebalan masih tinggi. Saya membaca di internet sebenarnya banyak penyakit kanker yang berhubungan dengan virus. Salah satu di antaranya adalah kanker leher rahim dan virus papilloma.

Saya juga mohon informasi apakah keadaannya serupa dengan kanker hati. Adakah vaksin tersebut di Indonesia dan apakah masa untuk menjadi kanker leher rahim setelah infeksi juga lama. Kalau demikian halnya, sebenarnya masyarakat memerlukan informasi agar peduli terhadap pencegahan kanker yang dapat dicegah dengan vaksin. Terima kasih. (T di B).

Jawaban

Penularan hepatitis A melalui makanan, sedangkan hepatitis B dan C melalui cairan tubuh. Hepatitis A sering menyerang anak-anak dan kelompok usia dewasa muda. Cara pencegahan penyakit ini adalah dengan menjaga kebersihan makanan dan juga tersedia vaksin hepatitis A. Vaksin ini diberikan dua kali dengan jarak 6 bulan.

Penyakit hepatitis A meski kadang menunjukkan gejala klinis yang mengganggu, seperti panas, mual, muntah, dan kuning, pada umumnya akan sembuh tanpa komplikasi. Jadi, hepatitis A tidak menjurus ke kanker hati. Namun hepatitis B dan hepatitis C kronik dapat menjadi kanker hati. Sebagian besar kanker hati di negeri kita disebabkan hepatitis B atau hepatitis C.

Anda telah mengetahui bahwa vaksinasi hepatitis B dapat mencegah penularan hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B dilakukan tiga kali dalam waktu enam bulan. Vaksinasi hepatitis B amat dianjurkan bagi petugas kesehatan karena selama kontak dengan pasien, risiko tertular melalui cairan tubuh pasien cukup tinggi. Sampai sekarang vaksin hepatitis C masih dalam penelitian, padahal dibandingkan dengan hepatitis B, hepatitis C lebih sering menjadi kronik sehingga risiko menjadi kanker hati juga lebih besar.

Karena belum ada vaksinnya, jika terinfeksi hepatitis C, maka dokter akan mempertimbangkan apakah pasien perlu mendapat terapi hepatitis C, yaitu interferon dan ribavirin.

Kanker leher rahim

Cara mencegah penyakit kanker leher rahim, Dewasa ini telah tersedia vaksin human papilloma virus (HPV). Virus ini dapat menimbulkan kanker leher rahim (serviks) dan kutil kelamin (kondiloma). Infeksi HPV dapat dicegah dengan vaksin HPV sehingga risiko timbulnya kanker serviks dan kutil kelamin dapat diturunkan.

Setelah terinfeksi HPV perlu waktu sekitar 20 tahun untuk menjadi kanker serviks. Nah, pada masa ini terbuka kesempatan untuk mengetahui perubahan pada mukosa serviks dengan menjalani pap smear. Vaksinasi HPV sangat dianjurkan pada remaja putri yang belum melakukan hubungan seksual karena daya lindungnya akan amat baik. Namun, bagi yang sudah melakukan hubungan seksual, vaksin ini masih bermanfaat meski tak sebaik yang belum melakukan hubungan seksual.

Di Amerika Serikat, vaksin HPV quadrivalen juga dianjurkan bagi remaja laki-laki untuk mengurangi risiko penyakit kutil kelamin yang juga merupakan masalah kesehatan di dunia. Jika vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks, maka pap smear untuk deteksi dini jika ada kelainan (termasuk keadaan prakanker) di serviks.

Perempuan yang telah menikah (berhubungan seksual) meski sudah divakinasi HPV tetap dianjurkan menjalani pap smear secara berkala. Namun di negeri kita, program pap smear baru dijalani sekitar 5 persen dari jumlah perempuan yang seharusnya menjalaninya.

Kita bersyukur pemerintah sudah memasukkan vaksinasi hepatitis B dalam program imunisasi anak sehingga setiap anak Indonesia mendapat kesempatan untuk memperoleh vaksinasi ini. Namun, cukup banyak remaja dan orang dewasa yang belum mempunyai kekebalan terhadap hepatitis B sehingga perlu divaksinasi.

Meski tidak termasuk dalam program, mereka dapat menjalani vaksinasi dengan biaya sendiri. Biaya vaksinasi hepatitis B dibandingkan dengan terapi hepatitis B apalagi terapi sirosis hati dan kanker hati relatif murah. Vaksinasi hepatitis B maupun HPV dapat diperoleh di praktik dokter dan rumah sakit.

Kita harus mengubah sikap tidak hanya peduli pada terapi, tetapi juga memerhatikan pencegahan penyakit. Setiap keluarga Indonesia hendaknya membekali diri dengan pemahaman mengenai pencegahan penyakit serta mengamalkannya. Sumber: Dr Samsuridjal Djauzi/Kompashealth.

Add Comment